Pengrajin krupuk rambak di daerah Bantul banyak ditemui, antara lain di Segoroyoso, yang merupakan sentra industri rambak dengan 34 pengrajin. Para perajin tersebut tersebut tersebar di 5 pedusunan : Srumbung, Jembangan, Kloron, Segoroyoso 1 dan Sogoroyoso 2. Salah satu pengrajin rambak yang ditemui reporter bantulbiz.com adalah Sri Haryani yang telah memproduksi rambak sejak 1990. Usaha rambak Sri dengan label �Windasari�, merupakan usaha turun temurun dari kakaknya yang juga masih aktif memproduksi rambak sampai sekarang.
Rambak produksi Sri maupun perajin lain, umumnya menggunakan kulit kerbau yang didatangkan dari Kalimantan dan Ujung Pandang. Kulit kerbau tersebut di beli melalui tiga distributor yang ada di Segoroyoso yaitu Hj. Sumaostri, Jumiasih dan Murdo Haryono. Sri membeli bahan baku kulit dengan harga Rp. 45.000 per kg untuk kulit dari Kalimantan dan Rp. 42.000 untuk kulit dari Ujung Pandang. Sampai saat ini semua perajin kerambak di wilayah Segoroyoso, tidak mengalami kesulitan mendapatkan bahan baku kulit.
Kondisi pasar yang masih potensial membuat usaha makanan tradisional ini tetap bertahan dan menjadi sumber penghasilan masyarakat. Setiap hari, Windasari Rambak diproduksi sekitar 30 kg atau total 600 kuintal per bulan. Rambak ini dijual dengan harga Rp. 45.000 hingga 86.000, tergantung kualitas rambak. Omzet penjualan menjadi rata-rata Rp. 39 juta per bulan dengan tingkat keuntungan 5 %. Perajin juga mendapat pemasukan tambahan dari penjualan residu yaitu bulu dan daging yang menempel. Bulu tersebut dijual untuk makanan ikan bawal dengan harga Rp. 2000 per kg dan untuk daging Rp. 7000 per kg.
Pangsa pasar rambak kulit dari Segoroyoso masih bersifat lokal sekitar DIY. Permintaan pasar akan naik pada musim hajatan orang jawa seperti bulan besar, musim haji atau idul adha, puasa hingga lebaran dan musim liburan sekolah. Untuk memenuhi permintaan yang melonjak pada bulan-bulan tertentu, pengrajin menyiasati dengan menimbun bahan dan rambak setengah matang yang siap digoreng. Daya tahan rambak yang telah diungkep, bila disimpan dalam kantong-kantong plastik dapat mencapai 1 tahun.
Menurut Mardiyono suami Sri Haryani saat ditemui di rumashnya Senin (09/08), pengolahan rambak melalui beberapa proses. Pertama lembaran kulit kerbau dipotong-potong dalam ukuran 30 sampai 40 cm persegi. Berikutnya merebus kulit hingga mengembang. Setelah itu, bulu dan sisa daging yang menempel dibersihkan kemudian direbus lagi hingga lunak. Kulit yang sudah lunak kemudian dipotong sesuai selera dan dilakukan pemilihan berdasarkan kualitas kulit. Potongan kecil-kecil kulit kerbau yang telah direbus untuk ke 2 kalinya, dijemur hingga benar-benar kering selama kurang lebih 2-3 hari dibawah panas matahari. Setelah kering, potongan-potongan kecil tersebut diungkep dengan minyak goreng pada panas tertentu selama 8-12 jam. Proses terakhir yaitu penggorengan dan pengemasan.
Dari urutan proses pembuatan rambak, pengungkepan dengan minyak, merupakan tahap yang sangat menentukan. Bila kurang panas, ketika digoreng rambaknya kurang mengembang, demikian sebaliknya bila terlalu panas. Untuk itu dibutuhkan kejelian dari tenaga yang mengerjakan proses pengungkepan ini. Pada tahap ini, pengalaman dan intusi seorang pekerja sangat berperan. Dalam mengelola usahanya, Sri dibantu 4 karyawan tetap dan untuk proses ungkep suami Sri Haryani, Mardiyono turun tangan secara langsung mengawasi. (Nura/Fernandez)
Info lebih lanjut hubungi :
Sri Haryani / Mardiyono
Jembangan RT. 06, Segoroyoso, Pleret, Bantul
(0274) 7881212.
Pangsa pasar rambak kulit dari Segoroyoso masih bersifat lokal sekitar DIY. Permintaan pasar akan naik pada musim hajatan orang jawa seperti bulan besar, musim haji atau idul adha, puasa hingga lebaran dan musim liburan sekolah. Untuk memenuhi permintaan yang melonjak pada bulan-bulan tertentu, pengrajin menyiasati dengan menimbun bahan dan rambak setengah matang yang siap digoreng. Daya tahan rambak yang telah diungkep, bila disimpan dalam kantong-kantong plastik dapat mencapai 1 tahun.
Menurut Mardiyono suami Sri Haryani saat ditemui di rumashnya Senin (09/08), pengolahan rambak melalui beberapa proses. Pertama lembaran kulit kerbau dipotong-potong dalam ukuran 30 sampai 40 cm persegi. Berikutnya merebus kulit hingga mengembang. Setelah itu, bulu dan sisa daging yang menempel dibersihkan kemudian direbus lagi hingga lunak. Kulit yang sudah lunak kemudian dipotong sesuai selera dan dilakukan pemilihan berdasarkan kualitas kulit. Potongan kecil-kecil kulit kerbau yang telah direbus untuk ke 2 kalinya, dijemur hingga benar-benar kering selama kurang lebih 2-3 hari dibawah panas matahari. Setelah kering, potongan-potongan kecil tersebut diungkep dengan minyak goreng pada panas tertentu selama 8-12 jam. Proses terakhir yaitu penggorengan dan pengemasan.
Dari urutan proses pembuatan rambak, pengungkepan dengan minyak, merupakan tahap yang sangat menentukan. Bila kurang panas, ketika digoreng rambaknya kurang mengembang, demikian sebaliknya bila terlalu panas. Untuk itu dibutuhkan kejelian dari tenaga yang mengerjakan proses pengungkepan ini. Pada tahap ini, pengalaman dan intusi seorang pekerja sangat berperan. Dalam mengelola usahanya, Sri dibantu 4 karyawan tetap dan untuk proses ungkep suami Sri Haryani, Mardiyono turun tangan secara langsung mengawasi. (Nura/Fernandez)
Info lebih lanjut hubungi :
Sri Haryani / Mardiyono
Jembangan RT. 06, Segoroyoso, Pleret, Bantul
(0274) 7881212.
0 komentar :
Posting Komentar