Gula Jawa yang dihasilkan dari nira sadapan pada pohon kelapa, diproduksi secara masal oleh hampir setiap kepala keluarga (KK) di dusun Jogonandan, Ngincep dan Butuh Desa Triwidadi, Pajangan. Jumlah KK di 3 dusun tersebut masing-masing : 170an, 130an, 100an dan setiap KK rata-rata memiliki 75 sampai 150 batang pohon kelapa. Mereka umumnya mampu menghasilkan minimal 5 kg gula jawa setiap harinya, atau kurang lebih 2 ton per hari produksi gula jawa dari wilayah ini.
Menurut Jumikem salah seorang pengurus KUB penderes saat ditemui di rumahnya dusun Jogonandan Senin (26/07), memproduksi gula Jawa merupakan salah satu usaha pokok keluarga dari masyarakat di wilayah ini, selain bertani dan beternak. Ia juga mengatakan bahwa menjual gula Jawa lebih menguntungkan karena ada nilai tambahnya, dibanding kalau hanya menjual buah kelapa. Lagi pula proses produksi gula Jawa sebenarnya sangat simpel dan mudah serta cukup hanya dikerjakan oleh anggota keluarga. Untuk menghasilkan 1 kg gula jawa, dibutuhkan 5 liter nira.
Dari pengamatan langsung reporter bantulbiz.com, nira yang dihasilkan disaring kemudian dimasak dengan menggunakan wajan selama kurang lebih 2 jam. Setelah agak mengental, nira yang telah berubah menjadi seperti adonan gula jawa cair, diturunkan dari perapian dan dimasukkan ke dalam tempurung-tempurung kelapa yang telah dibersihkan. Proses pendinginan di tempurung kelapa hanya berkisar 5 sampai 10menit. Setelah itu, gula kelapa tersebut didiamkan antara 1 sampai 3 jam agar benar-benar menjadi padat dan siap dijual.
Jenis produk siap jual yang dihasilkan dari bahan nira antara lain : gula jawa, gula semut, gula ampyang, gula jahe dan legen. Ketika disinggung tentang harga jual, Jumikem mengatakan, saat ini ia menjual gula jawa dengan harga Rp. 10.500 � Rp. 11.000 per kg, gula semut Rp. 700 per biji, gula ampyang Rp. 3.000 per bungkus ( isi 5 biji ), gula jahe Rp. 5.000 per bungkus ( isi 7 biji ) dan legen Rp. 7.000 per liter. Sedangkan sebagai pengepul, Jumikem sendiri membeli Rp. 10.200 dari para tetangganya.
Hampir tidak ada biaya yang dikeluarkan dalam proses pembuatan gula jawa. Tenaga kerja seluruhnya ditangani oleh anggota keluarga dan menggunakan bahan bakar kayu yang diambil dari pekarangan sendiri. Saat menjual, telah didatangi langsung para tengkulak. Hanya terkadang gula tersebut dibawa ke pasar atau kios-kios bahan kebutuhan pokok. Itu kami berarti seluruh nilai jual produk merupakan pendapatan keluarga. Namun saat berbincang, Jumikem mengatakan kalau mau dihitung tingkat keuntungannya, maka dari 10 kg produk gula jawa, hanya dapat diperoleh keuntungan Rp. 30.000. Jumikem bersama suaminya Suwardi setiap harinya memproduksi gula jawa 10 � 15 kg.
Pangsa pasar mereka sampai saat ini baru dalam wilayah Bantul, pada pasar tradisional serta kios bahan kebutuhan pokok. Juminten berkeluh kesah karena belum dapat masuk ke supermarket, sebab belum memiliki SP-IRT. Ketika kami masuk ke kampung Jogonalan, memang aroma kurang sedap cukup terasa dari kandang sapi metal yang hampir dimiliki oleh setiap keluarga dan terletak di dekat rumah tinggal mereka masing-masing. Mungkin kondisi inilah yang menyebabkan belum dapat diperolehnya SP-IRT. Belum lagi aroma dari kandang ayam yang diternak dalam jumlah cukup banyak, hampir oleh setiap KK.
Untuk masa mendatang, Jumikem berharap dapat dibangun pabrikan di lahan persawahan yang sedikit terpisah dari perkampungan mereka. Katanya, proposal untuk rencana sebuah pabrikan telah diserahkan ke pada Kepala Desa Triwidadi. Jika telah terrealisir, tidak ada lagi hambatan untuk mendapatkan SP-IRT, sehingga produk mereka dapat masuk ke supermarket maupun hipermarket dan penjualan gula Jawa dari wilayah ini akan dirintis melalui satu pintu. (Nura / Fernandez)
d/a. Jumikem
Dusun Jogonandan-Triwidadi-Pajangan-Bantul
Hp. 0878 3950 5077
Jenis produk siap jual yang dihasilkan dari bahan nira antara lain : gula jawa, gula semut, gula ampyang, gula jahe dan legen. Ketika disinggung tentang harga jual, Jumikem mengatakan, saat ini ia menjual gula jawa dengan harga Rp. 10.500 � Rp. 11.000 per kg, gula semut Rp. 700 per biji, gula ampyang Rp. 3.000 per bungkus ( isi 5 biji ), gula jahe Rp. 5.000 per bungkus ( isi 7 biji ) dan legen Rp. 7.000 per liter. Sedangkan sebagai pengepul, Jumikem sendiri membeli Rp. 10.200 dari para tetangganya.
Hampir tidak ada biaya yang dikeluarkan dalam proses pembuatan gula jawa. Tenaga kerja seluruhnya ditangani oleh anggota keluarga dan menggunakan bahan bakar kayu yang diambil dari pekarangan sendiri. Saat menjual, telah didatangi langsung para tengkulak. Hanya terkadang gula tersebut dibawa ke pasar atau kios-kios bahan kebutuhan pokok. Itu kami berarti seluruh nilai jual produk merupakan pendapatan keluarga. Namun saat berbincang, Jumikem mengatakan kalau mau dihitung tingkat keuntungannya, maka dari 10 kg produk gula jawa, hanya dapat diperoleh keuntungan Rp. 30.000. Jumikem bersama suaminya Suwardi setiap harinya memproduksi gula jawa 10 � 15 kg.
Pangsa pasar mereka sampai saat ini baru dalam wilayah Bantul, pada pasar tradisional serta kios bahan kebutuhan pokok. Juminten berkeluh kesah karena belum dapat masuk ke supermarket, sebab belum memiliki SP-IRT. Ketika kami masuk ke kampung Jogonalan, memang aroma kurang sedap cukup terasa dari kandang sapi metal yang hampir dimiliki oleh setiap keluarga dan terletak di dekat rumah tinggal mereka masing-masing. Mungkin kondisi inilah yang menyebabkan belum dapat diperolehnya SP-IRT. Belum lagi aroma dari kandang ayam yang diternak dalam jumlah cukup banyak, hampir oleh setiap KK.
Untuk masa mendatang, Jumikem berharap dapat dibangun pabrikan di lahan persawahan yang sedikit terpisah dari perkampungan mereka. Katanya, proposal untuk rencana sebuah pabrikan telah diserahkan ke pada Kepala Desa Triwidadi. Jika telah terrealisir, tidak ada lagi hambatan untuk mendapatkan SP-IRT, sehingga produk mereka dapat masuk ke supermarket maupun hipermarket dan penjualan gula Jawa dari wilayah ini akan dirintis melalui satu pintu. (Nura / Fernandez)
d/a. Jumikem
Dusun Jogonandan-Triwidadi-Pajangan-Bantul
Hp. 0878 3950 5077
0 komentar :
Posting Komentar