Peyek yang merupakan camilan tradisional dari tepung beras dengan campuran aneka kacang menjadi sumber penghasilan hampir semua warga di Palem Madu, Sriharjo, Imogiri. Citarasanya yang gurih dan renyah menjadikan peyek dari pelem Madu digemari masyarakat, sehingga pangsa pasar peyek dari Pelem Madu, menyebar hampir ke penjuru pulau Jawa. Tidak kurang 49 perajin peyek di sini memproduksi berbagai macam peyek dan menjadikan Pelem Madu sebagai dusun sentra peyek. Mereka umumnya memproduksi peyek kacang dan kedelai namun ada juga yang memproduksi peyek kacang hijau, teri dan udang.
Salah satu perajin Sumarji (43), ketika ditemui di rumahnya Kamis (04/11) menjelaskan; dalam setiap harinya ia membuat 1.900 bungkus antara lain 1.500 peyek kacang, 300 peyek delai putih dan 100 bungkus peyek delai hitam. Jika dilihat dari kapasitas produksinya, Sumarji tergolong perajin kelas menengah, karena ada yang mampu membuat 3.000 sampai 4.000 bungkus per hari seperti : Sumesti, Sumarmi dan Kustinah. Umunya dalam 1 bungkus berisi 8 buah peyek yang berdiameter 8 cm. Dan untuk memenuhi permintaan 2 super market langganan Sumarji, ia juga membuat peyek dengan diameter 7 cm. Dari 50 orang perajin peyek di sini, terdapat 35 orang yang tergolong menengah ke atas yakni yang mempekerjakan di atas 5 orang tenaga kerja.
Usaha pembuatan peyek di dusun Pelem Madu ini sendiri sebenarnya telah ada sejak 1994, namun saat itu baru 2 orang saja. Peyek menjadi booming sejak 2005 setelah dibina oleh LSM PKPEK. Kini mereka yang berusaha sebagai pembuat peyek tergabung dalam 3 kolompok. Kelompok Sedyo Rukun beranggotakan 20 orang, Manunggal 20 orang dan Mitra Usaha 19 orang, namun yang membuat peyek hanya 9 orang jadi total pembuat peyek 49 orang. Untuk lebih memantapkan kerjasama antar pelaku usaha di dusun Pelem Madu, 3 kelompok diatas menyatu dalam wajah Koperasi Simpan Pinjam Tri Tunggal, yang kini telah berbadan hukum. KSP Tri Tunggal juga terbuka keanggotaannya bagi warga Pelem Madu lain, sehingga jumlah anggota saat ini ada 76 orang.
Bahan baku peyek yaitu tepung beras biasa, tepung beras pilihan/rose brand, tepung tapioka, telur, kacang tanah, kedelai putih maupun hitam, santan, miri, tumbar, daun jeruk purut, bawang putih dan garam, serta vitsin. Untuk menggoreng peyek, umumnya digunakan minyak goreng curah. Dicontohkan Sumarji untuk membuat 1 adonan di butuhkan 4 kg tepung beras biasa, 0,5 kg rose brand, 0,5 kg tapioka dan 2 buah telur. Bahan-bahan tersebut diperoleh cukup mudah, Sumarji sendiri mendapat pasokan dari supplier. Bahan baku yang agak sulit yaitu kacang tanah karena tergantung musim tanam. Pada bulan Juli sampai September terpaksa harus membeli kacang import dari India atau Vietnam yang harganya lebih mahal namun rasanya kurang gurih.
Beberapa hal positif dari adanya kelompok-kelompok pembuat peyek antara lain dapat disepakati bersama standard harga minimal untuk peyek kacang tanah Rp. 2.700 dan peyek delai Rp. 2.000 per bungkus. Sedangkan untuk peyek kacang hijau, teri dan udang belum ada standard karena yang membuat hanya beberapa orang saja. Demikian pula dengan ukuran besar rata-rata berdiameter 8 cm dan satu bungkusnya berisi 8 peyek. Secara rutin masing-masing kelompok mengadakan pertemuan 2 minggu sekali. Dalam pertemuan tersebut juga dibahas kendala pemasaran yang dihadapi dan kondisi harga bahan baku, selain arisan kelompok. Sebagai usaha mikro berbentuk home industri, Sumarji juga menjelaskan bahwa rata-rata pembuat peyek di dusun ini hanya memeliki sertifikat P-IRT dan yang dalam proses adalah sertifikat halal serta label nutrition fact (kandungan nutrisi).
Perijinan lainnya belum ada. Sumarji sendiri memulai usaha pembuatan peyek pada awal 2004 setelah berhenti sebagai kepala bagian di salah satu pabrik di Bogor. Sebelum memproduksi sendiri,, Sumarji memulai dengan memasarkan peyek buatan kakaknya. Kini Sumarji dengan dibantu 13 karyawannya mampu membuat 1.900 bungkus per hari. Bila ia mendapat pesanan banyak, sebagian di subkan kepada rekan yang lain. Peyek produksinya dipasarkan ke wilayah Jogjakarta, Purworejo, Purwokerto, Brebes, Bumiayu, Purbalingga dan Jakarta. Peyek tersebut kebanyakan dijual di warung atau pasar tradisional dengan harga peyek kacang Rp. 2.700 dan peyek kedelai Rp. 2000 per bungkus. Omzet penjualan Sumarji sehari Rp. 5 juta dengan tingkat keuntungan Rp. 100 � Rp 150 per bungkus atau sekitar Rp. 180.000 � Rp. 270.000 per hari atau Rp. 5,4 juta sampai Rp. 8,1 juta per bulan. (Nura/Fernandez)
---------------------------------------------------
d/a. Sumarji, Pelem Madu Rt. 03, Sriharjo, Imogiri, Bantul
Hp. 0878 3916 9865
Salah satu perajin Sumarji (43), ketika ditemui di rumahnya Kamis (04/11) menjelaskan; dalam setiap harinya ia membuat 1.900 bungkus antara lain 1.500 peyek kacang, 300 peyek delai putih dan 100 bungkus peyek delai hitam. Jika dilihat dari kapasitas produksinya, Sumarji tergolong perajin kelas menengah, karena ada yang mampu membuat 3.000 sampai 4.000 bungkus per hari seperti : Sumesti, Sumarmi dan Kustinah. Umunya dalam 1 bungkus berisi 8 buah peyek yang berdiameter 8 cm. Dan untuk memenuhi permintaan 2 super market langganan Sumarji, ia juga membuat peyek dengan diameter 7 cm. Dari 50 orang perajin peyek di sini, terdapat 35 orang yang tergolong menengah ke atas yakni yang mempekerjakan di atas 5 orang tenaga kerja.
Usaha pembuatan peyek di dusun Pelem Madu ini sendiri sebenarnya telah ada sejak 1994, namun saat itu baru 2 orang saja. Peyek menjadi booming sejak 2005 setelah dibina oleh LSM PKPEK. Kini mereka yang berusaha sebagai pembuat peyek tergabung dalam 3 kolompok. Kelompok Sedyo Rukun beranggotakan 20 orang, Manunggal 20 orang dan Mitra Usaha 19 orang, namun yang membuat peyek hanya 9 orang jadi total pembuat peyek 49 orang. Untuk lebih memantapkan kerjasama antar pelaku usaha di dusun Pelem Madu, 3 kelompok diatas menyatu dalam wajah Koperasi Simpan Pinjam Tri Tunggal, yang kini telah berbadan hukum. KSP Tri Tunggal juga terbuka keanggotaannya bagi warga Pelem Madu lain, sehingga jumlah anggota saat ini ada 76 orang.
Bahan baku peyek yaitu tepung beras biasa, tepung beras pilihan/rose brand, tepung tapioka, telur, kacang tanah, kedelai putih maupun hitam, santan, miri, tumbar, daun jeruk purut, bawang putih dan garam, serta vitsin. Untuk menggoreng peyek, umumnya digunakan minyak goreng curah. Dicontohkan Sumarji untuk membuat 1 adonan di butuhkan 4 kg tepung beras biasa, 0,5 kg rose brand, 0,5 kg tapioka dan 2 buah telur. Bahan-bahan tersebut diperoleh cukup mudah, Sumarji sendiri mendapat pasokan dari supplier. Bahan baku yang agak sulit yaitu kacang tanah karena tergantung musim tanam. Pada bulan Juli sampai September terpaksa harus membeli kacang import dari India atau Vietnam yang harganya lebih mahal namun rasanya kurang gurih.
Beberapa hal positif dari adanya kelompok-kelompok pembuat peyek antara lain dapat disepakati bersama standard harga minimal untuk peyek kacang tanah Rp. 2.700 dan peyek delai Rp. 2.000 per bungkus. Sedangkan untuk peyek kacang hijau, teri dan udang belum ada standard karena yang membuat hanya beberapa orang saja. Demikian pula dengan ukuran besar rata-rata berdiameter 8 cm dan satu bungkusnya berisi 8 peyek. Secara rutin masing-masing kelompok mengadakan pertemuan 2 minggu sekali. Dalam pertemuan tersebut juga dibahas kendala pemasaran yang dihadapi dan kondisi harga bahan baku, selain arisan kelompok. Sebagai usaha mikro berbentuk home industri, Sumarji juga menjelaskan bahwa rata-rata pembuat peyek di dusun ini hanya memeliki sertifikat P-IRT dan yang dalam proses adalah sertifikat halal serta label nutrition fact (kandungan nutrisi).
Perijinan lainnya belum ada. Sumarji sendiri memulai usaha pembuatan peyek pada awal 2004 setelah berhenti sebagai kepala bagian di salah satu pabrik di Bogor. Sebelum memproduksi sendiri,, Sumarji memulai dengan memasarkan peyek buatan kakaknya. Kini Sumarji dengan dibantu 13 karyawannya mampu membuat 1.900 bungkus per hari. Bila ia mendapat pesanan banyak, sebagian di subkan kepada rekan yang lain. Peyek produksinya dipasarkan ke wilayah Jogjakarta, Purworejo, Purwokerto, Brebes, Bumiayu, Purbalingga dan Jakarta. Peyek tersebut kebanyakan dijual di warung atau pasar tradisional dengan harga peyek kacang Rp. 2.700 dan peyek kedelai Rp. 2000 per bungkus. Omzet penjualan Sumarji sehari Rp. 5 juta dengan tingkat keuntungan Rp. 100 � Rp 150 per bungkus atau sekitar Rp. 180.000 � Rp. 270.000 per hari atau Rp. 5,4 juta sampai Rp. 8,1 juta per bulan. (Nura/Fernandez)
---------------------------------------------------
d/a. Sumarji, Pelem Madu Rt. 03, Sriharjo, Imogiri, Bantul
Hp. 0878 3916 9865
0 komentar :
Posting Komentar