Ketika berkunjung ke salah satu perajin di Ngabean Kamis (26/01/12), kami coba menemui ibu Sudibyo. Ia bercerita, semula dia bersama tiga orang temannya diajak mengikuti pelatihan membuat bunga kering oleh Pak Prapto di Madukismo. Kami dilatih membuat bunga mawar dari kulit buah jagung (klobot) dan beberapa jenis bunga kering lainnya dari aneka bahan natural. Selama tiga hari mengikuti pelatihan, kami merasa sanggup memulai produksi. Pada produksi pertama, semua bahan disediakan pak Prapto, sehingga kami harus menjual kepadanya lagi. Saat mengantar bunga kering ke pak Prapto, saya dan teman saya diikuti seseorang yang menawarkan untuk membeli dengan harga yang lebih mahal, sehingga pada produksi kedua kami berusaha mencari bahan sendiri.
Usaha Ibu Sudibyo yang diberi label Anggrek Lestari, mulai menapak sejak tahun 2000. Saya bersama tiga orang teman, memulai usaha sendiri dengan mempekerjakan para ibu di dusun Ngabean ini. Sekarang dengan 6 orang tenaga borongan, secara rutin saya memproduksi 7 jenis bunga: bungan anggrek dari bahan biji nyamplung, mawar, tulip, nanas klobot dan lontar, biji-bijian, anggur dan buah naga. Selain bunga kering saya juga memproduksi jenis kerajinan lain sesuai permintaan pelanggan. Saat ini yang sedang saya produksi : lidi hiasan berbalut gajih dari kulit ari pohon waru, souvenir pensil hiasan dan lonceng angin. Kapasitas produksi dalam sebulan mencapai 5.000 � 10.000 pcs untuk bunga kering, lidi hiasan 1.500 pcs dan souvenir pensil hiasan 5.000 pcs.
Harga jual bunga kering dari ibu Sudibyo cukup murah. Mawar ( 1 sampai 3 tangkai ) Rp. 1.000, anggrek nyamplung Rp. 1.000, tulip Rp. 1.000, nanas klobot Rp. 2.000, nanas lontar Rp. 1.500, bunga biji-bijian Rp. 800, anggur Rp. 800, dan buah naga Rp. 1.500. Dari bunga kering saja, bu Sudibiyo dapat meraih omzet penjualan Rp. 10 juta dalam sebulan, dengan tingkat keuntungan 25 %. Dari lidi hiasan yang dipatok ongkos buat Rp. 100 per lonjor, ia mengambil Rp. 20 dan sisanya untuk tenaga kerjanya. Sedangkan souvenir pensil hiasan yang dijual Rp. 650 per batang pensil, saya mengambil keuntungan Rp. 200. Dengan demikian hasil bersih dalam sebulan dapat mencapai Rp. 3,5 � 4 juta.
Untuk membuat bunga kering, para perajin di Ngabean menggunakan bahan : daun lontar,klobot, sabut kelapa, biji-bijian (nyamplung, biji karet, buah pinus, blulo, jangkang dan kopeng siwalan), bambu, pelepah pisang, kertas semen, lidi, maringgah, sembung, pasir putih, tali agel dan lem. Hanya daun lontar yang didatangkan secara bersama oleh para perajin dari Tuban Jawa Timur dan Rembang Jawa Tengah. Harga daun lontar satu papahan Rp. 7.000. Bahan lainnya tersedia di wilayah DIY. Sedangkan lidi hiasan berasal dari aren yang telah celup dalam larutan berwarna hitam, kemudia dibalut kulit ari pohon waru.
Untuk membentuk daun lontar dan klobot menyerupai bentuk bunga, umumnya para perajin mengguna kan gunting dan alat solder listrik. Seorang perajin membutuhkan 5 sampai 15 alat solder listrik, tergantung jumlah tenaga kerja yang ada. Alat pelubang, umumnya digunakan bor tembak atau bor dinamo. Umumnya para perajin di Ngabean hanya melayani pelanggan di dalam wilayah DIY saja, sedang yang menjual produksi bunga kering ke luar daerah bahkan dieksport biasanya oleh para pengepul.
Selain sebagai nama usaha bu Sudibiyo, Anggrek Lestari juga menjadi nama perkumpulan 15 orang perajin bunga kering di Ngabean. Menurut bu Sudibyo, jumlah perajin bunga kering di Ngabean kurang lebih 25 orang saat ini. Bila pesanan banyak, kami masih sering kekurangan modal kerja. Untuk itu melalui kelompok Anggrek Lestari, bu Sudibyo bersama teman-temannya sering mencari bantuan dana dari berbagai pihak terutama Pemerintah Daerah, baik dalam bentuk hibah maupun pinjaman lunak. Melalui Dinas Perindagkop Bantul, bu Sudibyo sering mengikuti pameran barang-barang kerajinan di Bandung, TMII maupun PRJ. (Nura/Fernandez)
-------------------------------------------
Perajin Bunga Kering Anggrek Lestari : d/a. Ngabean Rt. 03, Triharjo, Pandak, Bantul, Yogya
Contact Person : Bu Sudibyo � Hp. 0857 2928 5515
0 komentar :
Posting Komentar