Dari beberapa generasi yang lalu, pedukuhan Sewon telah dikenal sebagai sentra kerajinan parut tradisional. Sampai kinipun, masih terdapat kurang lebih 60 orang perajin parut di wilayah ini. Kerajinan ini umumnya dikerjakan oleh para ibu rumah tangga, banyak diantara mereka yang sudah lanjut usia. Kegiatan pembuatan parut biasanya dikerjakan sekedar untuk mengisi kekosongan waktu sambil mengurus rumah tangga dan mengasuh anak balita. Walau pekerjaan sambilan, tapi banyak pula yang mengerjakannya dengan tekun.
Ketika ditemui di rumahnya Sewon Rt.03 Senin (11/03), Ponijah (65) salah seorang perajin yang masih rutin memproduksi parut setiap harinya menuturkan bahwa; dalam sehari ia mampu menghasilkan 4 buah parut. Parut yang dibuatnya berukuran 12 x 30 cm yang dijualnya dengan harga Rp. 4 -5 rb. Dari harga jual tersebut Ponijah memperkirakan keuntungan setiap parut Rp. 1.500. Walau pendapatannya terbilang kecil, tapi ia tekun memproduksi secara rutin untuk menambah pendapatan keluarga. Paling tidak setiap harinya saya punya uang untuk jajan cucu yang saya asuh.
Parut tradisional ini umumnya digunakan untuk parut kelapa, namun bisa juga untuk parut ubi. Kelebihan menggunakan parut ini yakni mampu menghasilkan santan yang lebih kental dibanding parut gilingan, sehingga sampai sekarang tetap banyak peminatnya. Bahan pembuatan parut ini adalah kayu mlinjo dan kawat baja atau kawat rem sepeda. Sedangkan peralatan yang digunakan hanya berbentuk palu dan penjepit serta ganjel model dingklik maupun potongan beton cor. Potongan kayu mlinjo sudah dibeli jadi dari perajinnya dengan harga Rp. 1 � 2 rb tergantung ukuran dan kualitas kayu.
Para perajin tinggal menancap potongan kawat rem atau bendrat baja pada kayu tersebut secara terukur pada salah satu permukaan kayu tersebut, selanjutnya parut sudah siap dijual. Bentuk parut tradisional ini hanyalah satu jenis oleh seluruh perajin. Bentuk yang sangat sederhana tanpa gagang parut. Menurut Jubaidah perajin parut lainnya yang juga ditemui, daya tahan parut tradisional ini, kurang lebih 1 tahun apabila sering digunakan. Jubaidah memproduksi parut yang ukurannya lebih kecil yakni 10 x 25 cm dengan harga jual Rp. 3 � 3,5 rb. Dalam sehari Jubaidah hanya sanggup membuat 2 � 3 buah parut.
Umumnya para perajin parut di Sewon tidak memasarkan langsung produknya ke pasar-pasar tradisional, karena sudah dibeli langsung oleh para pengepul. Mujirah (54) salah seorang bakul yang juga ditemui bantulbiz.com mengatakan bahwa; dalam seminggu ia sanggup mengumpulkan dan menjual 40 � 50 parut dan biasanya semua terjual habis. Saya menjualnya di beberapa pasar tradisional seperti pasar Piyungan, pasar Wage, pasar pahing, Ngipik, Jejeran dan Pleret. Hampir semua pasar tradisional di Bantul, pasti menjual parut buatan warga Sewon. Keuntungan yang diambil para bakul ini rata-rata Rp. 500 � 1000. Pangsa pasar parut dari Sewon mencakup seluruh DIY bahkan ada juga yang dijual ke luar wilayah DIY.
Walau hasilnya kecil, Ponijem yang juga seorang perajin parut yang tekun mengatakan, saya harus tetap membuatnya karena tidak ada pekerjaan lain lagi yang bisa menghasilkan uang untuk dirinya. Ada juga kesulitan yang sering mereka alami yakni tidak tersedianya papan mlinjo yang siap dibuatkan parut karena perajin papan tersebut juga kesulitan mendapatkan pohon mlinjo yang bisa dibeli. Sedangkan jenis kayu lainnya jarang digunakan selain mlionjo, karena biasanya sulit untuk menancapkan potongan kawat rem. ( Fernandez )
----------------------------------------------------
Padukuhan Sewon, Desa Timbulharjo, Kec. Sewon. Kab. Bantul
Parut tradisional ini umumnya digunakan untuk parut kelapa, namun bisa juga untuk parut ubi. Kelebihan menggunakan parut ini yakni mampu menghasilkan santan yang lebih kental dibanding parut gilingan, sehingga sampai sekarang tetap banyak peminatnya. Bahan pembuatan parut ini adalah kayu mlinjo dan kawat baja atau kawat rem sepeda. Sedangkan peralatan yang digunakan hanya berbentuk palu dan penjepit serta ganjel model dingklik maupun potongan beton cor. Potongan kayu mlinjo sudah dibeli jadi dari perajinnya dengan harga Rp. 1 � 2 rb tergantung ukuran dan kualitas kayu.
Para perajin tinggal menancap potongan kawat rem atau bendrat baja pada kayu tersebut secara terukur pada salah satu permukaan kayu tersebut, selanjutnya parut sudah siap dijual. Bentuk parut tradisional ini hanyalah satu jenis oleh seluruh perajin. Bentuk yang sangat sederhana tanpa gagang parut. Menurut Jubaidah perajin parut lainnya yang juga ditemui, daya tahan parut tradisional ini, kurang lebih 1 tahun apabila sering digunakan. Jubaidah memproduksi parut yang ukurannya lebih kecil yakni 10 x 25 cm dengan harga jual Rp. 3 � 3,5 rb. Dalam sehari Jubaidah hanya sanggup membuat 2 � 3 buah parut.
Umumnya para perajin parut di Sewon tidak memasarkan langsung produknya ke pasar-pasar tradisional, karena sudah dibeli langsung oleh para pengepul. Mujirah (54) salah seorang bakul yang juga ditemui bantulbiz.com mengatakan bahwa; dalam seminggu ia sanggup mengumpulkan dan menjual 40 � 50 parut dan biasanya semua terjual habis. Saya menjualnya di beberapa pasar tradisional seperti pasar Piyungan, pasar Wage, pasar pahing, Ngipik, Jejeran dan Pleret. Hampir semua pasar tradisional di Bantul, pasti menjual parut buatan warga Sewon. Keuntungan yang diambil para bakul ini rata-rata Rp. 500 � 1000. Pangsa pasar parut dari Sewon mencakup seluruh DIY bahkan ada juga yang dijual ke luar wilayah DIY.
Walau hasilnya kecil, Ponijem yang juga seorang perajin parut yang tekun mengatakan, saya harus tetap membuatnya karena tidak ada pekerjaan lain lagi yang bisa menghasilkan uang untuk dirinya. Ada juga kesulitan yang sering mereka alami yakni tidak tersedianya papan mlinjo yang siap dibuatkan parut karena perajin papan tersebut juga kesulitan mendapatkan pohon mlinjo yang bisa dibeli. Sedangkan jenis kayu lainnya jarang digunakan selain mlionjo, karena biasanya sulit untuk menancapkan potongan kawat rem. ( Fernandez )
----------------------------------------------------
Padukuhan Sewon, Desa Timbulharjo, Kec. Sewon. Kab. Bantul
0 komentar :
Posting Komentar