Desa Trimurti - Sentra Kerajinan Tahu

Kelompok Tahu Ngudi Lestari - Sentra Kerajinan Tahu
Desa Trimurti merupakan daerah sentra perajin tahu dengan sekitar 121 perajin tahu. Perajin ini tersebar di lima dusun yaitu, Gunungsaren, Nggerso, Proketen, Pedak, Puron, dan Jetis. Gunungsaren merupakan dusun dengan jumlah perajin tahu paling banyak yaitu sekitar 51 orang yang tergabung dalam kelompok tahu Ngudi Lestari.

Kelompok Ngudi Lestari merupakan gabungan perajin tahu yang membagi menjadi dua sub kelompok yaitu Koperasi Tahu Murni I dan II yang beranggotakan ibu-ibu serta kelompok pengelola limbah yang beranggotakan bapak-bapak. Kelompok Tahu Murni mengelola koperasi yang bertugas menyediakan bahan baku tahu yaitu kedelai. Koperasi ini mengelola dana bantuan dari PKPEK (Perkumpulan Untuk Kajian dan Pengembangan Ekonomi Kerakyatan) sebesar 150 juta rupiah. Setiap sore para perajin tahu membeli kedelai dengan kebutuhan sekitar 4 ton per hari atau sekitar 75 kg kedelai per hari untuk setiap perajin.

Kelompok Ngudi lestari mengadakan pertemuan satu kali dalam satu bulan, pada sabtu malam. Pertemuan membahas keuangan koperasi dan membahas persoalan limbah seperti kerusakan pipa saluran pembuangan.

Proses produksinya dilakukan melalui beberapa tahap. Umumnya para perajin telah menentukan bahwa untuk satu kali proses pemasakan, diolah 5 kg kedelai, yang akan menghasilkan 10 kg tahu. Proses pertama pembuatan tahu yaitu kedelai dicuci, direndam selama 4 jam, kemudian dibersihkan kulit luarnya. Selanjutnya kedelai digiling dan direbus sampai mendidih sekitar 30 menit. Santan dari kedelai yang sudah mendidih kemudian disaring dan diambil sari atau patinya. Setelah mengendap beberapa menit, air dibuang sehingga tinggal pati, tetapi belum menyatu. Agar dapat menyatu, pati diberi beri air bekas adonan yang biasa disebut kecutan. Pati yang telah menyatu kemudian dimasukan ke dalam alat cetak untuk selanjutnya dipres selama kurang lebih 1 jam. Proses terakhir, tahu di potong sesuai ukuran standar.

Sebagian besar proses pengolahan tahu oleh kelompok Ngudi lestari masih bersifat tradisional. Artinya menggunakan tungku dengan perapian memakai kayu bakar. Namun sebagian kecil pengrajin sudah menggunakan uap dalam proses perebusan. Keunggulan dari proses penguapan ini adalah dapat menghasilkan tahu dengan aroma yang lebih harum.

Limbah pembuatan tahu masih dapat diolah menjadi tempe gembus atau dijual sebagai makanan ternak. Limbah tahu untuk satu kali memasak dengan kapasitas 5 kg kedelai, dijual dengan harga Rp. 4.000. Sedangkan limbah cairnya, disalurkan ke sumur-sumur IPAL, sehingga menghasilkan biogas. Biogas tersebut sudah dimanfaatkan untuk keperluan rumah tangga, khususnya memasak dan menjadi substitusi gas elpiji secara efektif.

Dala hal pemasaran, tahu kelompok Ngudi Lestari dan tahu dari Trimurti umumnya, tidak mengalami kesulitan. Tahu dijual dengan harga Rp. 200 per biji atau Rp.5000 per kg. Satu kg tahu rata-rata berisi 25 biji tahu. Tahu Trimurti dipasarkan ke hampir seluruh pasar yang ada di Bantul, pasar di Kota Yogyakarta, Kulon Progo, rumah sakit Bethesda dan rumah sakit Panembahan Senopati. Karena tahu hanya bertahan dua hari, tahu yang tidak laku diolah menjadi tahu goreng atau tahu isi.

Sampai saat ini, kendala yang dihadapi para perajin tahu yaitu bagaimana agar tahu menjadi tahan lama. Tahu yang diproduksi hanya bertahan maksimal 2 hari, itupun airnya harus sering diganti. (Nura / Fernandez)

d/a. Ketua Kelompok Ngudi Lestari � Kasmaini No Hp. (0274) 6523674
Gungsaren - Trimurti - Sradakan - Bantul - DIY
Share on Google Plus

About FAY Tekno

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Posting Komentar